تربية الاسلام
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Diakhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan berita
adanya virus yang melanda kota Wuhan provinsi Hubei China.[1]
Kemudian merambat hampir keseluruh penjuru negeri Tiongkok. hingga ke negara
yang berbatasan langsung seperti Jepang dan Korea. Virus ini terus terus
menyebar ke belahan dunia lainnya seperti: Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan
Australia.
Wabah ini menyerang penduduk dunia secara membabibuta
tanpa mengenal batasan usia, laki-laki, perempuan, sebagai objek sesaran dan
mengancam secara psikis dan materil semua orang. Pandemi merusak kestabilan
setiap negara dalam menjalankan roda kemerintahan disegala bidang, seperti:
Kesehatan, Perdagangan, dan Pendidikan.[2]Indonesia
adalah satu diantara negara di dunia yang merasakan imbas dari adanya pandemi
ini. Salah satu yang patut disoroti yaitu bidang pendidikan karena negara ini
merupakan negara besar dengan banyak kepulauan. Pemerintah dalam hal ini
berupaya menerapkan kebijakan belajar dari rumah mulai pertengahan maret 2019.
Pendidikan merupakan seseorang (guru) yang secara sadar
memberikan ilmu kepada peserta didik untuk menjelaskan bagaimana menjawab
pertanyaan dalam kehidupan sebagai pribadi yang mandiri dan matang. Pendidikan
terbagi menjadi formal seperti sekolah yang berbasis umum dan ada yang berupa
non formal seperti sekolah yang ada di pesantren salaf.
Pesantren
saat ini banyak mengalami kemajuan signifikan terutama dibidang sumber daya manusia, hal ini bisa dilihat
dari secara fisik pesantren yang menjadi acuan bahwa pesantren banyak mencetak
generasi yang mampu bersaing secara keilmuan diberbagai sektor, mulai dari
lapisan bawah, menengah, dan atas seperti sektor pendididkan, politik,
wirausaha, dan lainnya. Banyak dari kalangan alumni pesantren yang bisa
dikatakan sukses dalam berkarir di tingkat rovinsi, nasional hingga
internasional seperti: R.KH. Latif Amin Imron, SH. sebagai Bupati Bangkalan,
KH. Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden, dan lainnya.
Menurut KH. Said Aqil Siroj sistem pendidikan pesantren
di Indonesia secara umum hampir sama karena diadopsi dari cara Nabi Muhammad
SAW menggembleng para sahabatnya sehingga menjadi orang yang berilmu,
berakhlak, dan mulia. Santri juga dituntut memiliki cita-cita tinggi dalam
belajar supaya membangkitkan semangat yang ada dalam diri setiap manusia.
Sejatinya kemampuan santri itu berbeda-beda, hal ini berkenaan dengan anugrah
berupa bakat yang Tuhan berikan kepada setiap orang.[3]
Berdasarkan kutipan diatas dapat dikatakan bahwa
pesantren merupakan lembaga yang mengkader santri kearah yang lebih maju dari
masa kemasa untuk menjawab setiap persoalan agama dan dunia. Disamping itu,
pesantren juga dituntut untuk dapat membimbing dan memberi sebanyak mungkin
ilmu terhadap santri.
Al-Asror adalah pondok pesantren yang dibangun oleh KH.
Tamhid Tirmizdi di Mlajah Bangkalan pada Tahun 2007, beliau memperkenankan
santrinya menempuh sekolah umum diluar atau sekolah di dalam pondok yaitu
sekolah persamaan(paket). Santri bebas memilih sekolah umumnya sendiri dengan
tetap mematuhi kebijakan yang dibuat pesantren, diantaranya larangan membawa
alat elektronik seperti: Handphone, laptop, dan sepeda motor.
Adanya pemberlakuan belajar secara daring oleh sekolah-sekolah di
Bangkalan membuat bingung semua guru dan para santri terkait metode yang
digunakan dan cara mengoptimalkan media yang dipakai dalam proses pembelajaran
daring supaya tidak disalah gunakan oleh santri. Oleh karena itu perlu ada korelasi antara pembelajaran
daring dengan kegiatan di pesantren supaya lebih optimal dalam belajar.
Hal ini menjadi momentum bagi peneliti untuk mengangkat judul ini karena
adanya kerancuan antara penerapan pembelajaran daring dari sekolah dan
pembelajaran tatap muika di pesantren dipesantren tersebut. Media elektronik
yang dipakai sebagai alat atau media pembelajaran Daring merupakan hal tabu
untuk digunakan di pesantren karena ini merupakan sebuah pelanggaran dan
bertentangan dengan kebijakan yang ada.
Sebelumnya Para santri yang sekolah formal di
dalam ataupun di luar pesantren tidak diperkenankan membawa alat elektronik
seperi: HP, laptop, notebook dan lainnya. namun semenjak pemberlakuan pembelajaran
daring dari sekolah formal maka pesantren harus memberi dispensasi atau
ultimatum baru perihal peraturan media elektronik ditahun ini.
Selama proses pembelajaran daring yang dilakukan
santri di pesantren, pengurus pesantren harus rutin melakukan pendapingan juga
evaluasi secara bertahap suapaya nantinya proses pembelajaran daring kondusif
dan optimal sesuai kebijakan pesantren di masa pandemi.
B. Rumusan Masalah.
1. Metode apa yang digunakan guru
di pesantren dalam mengoptimalkan media pembelajaran daring.?
2. Bagaimana guru di Pondok
Pesantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror Bangkalan mengkorelasikan metode
pembelajaran daring dengan kegiatan pesantren?
C. Tujuan Masalah.
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Untuk
mengoptimalkan proses pembelajaran daring santri di Pondok Pesantren Tahfizdil Qur’an
Al-Asror Bangkalan?
2.
Untuk
mengkorelasikan metode pembelajaran daring dengan kegiatan di Pondok Pesantren
Tahfizdil Qur’an Al-Asror Bangkalan?
- Kegunaan Penelitian.
Dengan tercapainya tujuan penelitian diatas, maka
diharapkan penelitian ini berguna untuk :
1.
Manfaat
teoritis.
a.
Hasil
penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan tentang penggunaan media
pembelajaran daring secara efisien (tepat).
b. Hasil penelitian ini sebagai salah satu bahan acuan
dalam menerapkan metode pembelajaran daring.
2.
Manfaat
Praktis.
a.
Bagi
Peneliti.
Dengan melakukan penelitian ini
diharapkan dapat menambah ilmu pengetahun, pengalaman baru, dan wawasan tentang
pembelajaran daring..
b. Bagi Guru.
Sebagai penambahan ilmu ,wawasan ,
bahan evalusi, juga acuan untuk mengoptimalkan santri dalam belajar di dalam ataupun diluar pesantren.
c.
Bagi
Santri.
Diharapkan santri lebih bijak dalam
penggunaan media pembelajaran daring Serta menjadi motivasi bagi santri dalam
belajar di Pondok Pesantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror Bangkalan.
d. Bagi Pondok Pesantren.
Sebagai bahan dan masukkan serta
informasi dalam hal meningkatkan mutu kualitas santri dalam hal memahami fungsi
media pembelajaran di Pondok Pesantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror Bangkalan.
- Ruang Lingkup Penelitian.
Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror di Desa Mlajah Kecamatan Bangkalan pada
bulan Desember Tahun 2021, obyek penelitian meliputi Pondok Pesantren, Santri,
pengasuh, guru, dan pengurus, dan subjektifnya yaitu mengkorelasikan
pembelajaran sebagai salah satu media pembelajaran daring dengan kebijakan
pondok pesantren.
- Definisi operasional.
1. Pengertian Metode.
Metode merupakan sebuah langkah,
perinsip, dan cara yang
dibuat secara sistematis demi mencapai sebuah tujuan tertentu. Metode sering seseorang dipakai
untuk mencapai sebuah hasil atau tujuan.
2. Pembelajaran
Daring.
pembelajaran
Daring adalah pembelajaran yang dilakukan dengan jarak jauh dengan memakai
media Elektronik seperti Smart phone, Laptop, note book dan lainnya sebagai alat penghubung proses
pembelajaran. Pembeajaran daring juga
disebut pembelajara yang dilakukan secara tidak langsung atau nukan tatap muka
dengan dan media tertentu.
3. Korelasi.
korelasi
merupakan hubungan timbal balik atau sebab-akibat dari sesuatu yang berupa
barang, perbuatan. sifat, dan perkataan.
4. Pesantren.
Pesantren
merupakam tempat belajar ilmu agama yang dilakukan seseorang dengan model
asrama.
5. Kebijakan Pesantren.
Kebijakan pesantren merupakan suatu ketentuan, tata
tertib, peraturan yang harus dilakukan/ditaati santri selama menempuh pelajaran
di Pesantren. Jika suatu kebijakan pesantren tidak dipatuhi(dilanggar) oleh
santri, maka pihak pesantren (pengurus) akan memberi sangsi atau hukuman yang sesuai
dengan ketentuan Pesantren.
6. Kegiatan Pesantren.
Kegiatan Pesantren
merupakan suatu proses, usaha, pekerjaan yang dilakukan santri selama menempuh
pendidikan di Pesantren.
G.
Metode Penelitian.
1.
Jenis Dan Sifat Penelitan.
a.
Jenis Penelitian.
Penelitian adalah cara yang
dipakai sebagai
pengumpulan
data analisis informasi untuk peningkatan pemahaman terhadap
topik tertentu. Metode penelitian ialah strategi umum yang dianut ketika pengumpulan dan melakukan analsis data yang dipakai untuk
menjawab permasalahan.
Penelitian
ini termasuk penelitian lapangan (field research). Menurut
Abdurrahman Fatoni, “penelitian lapangan ialah
suatu penelitian yang dilakukan
dilapangan
atau dilokasi penelitian,
suatu
tempat yang dipilih
sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala
objektif sebagai terjadi dilokasi tersebut, yang dilakukan untuk
menyusun laporan ilmiah.[4]
Penelitian
lapangan merupakan penelitian
yang dianggap
sebagai metode mendapatkan data kualitatif. Ide
penting yaitu peneliti terjuan ke
lapangan untuk melakukan penelitian mengenai fenomena dalam suatu
keadaan ilmiah.Sehingga,
pendekatan
ini erat kaitannya terhadapberbagai pengamatan
serta peneliti lapangan
biasanya membuat
catatan ekstensif yang selanjutnya dibuat kodenya dan dianalisa pada bermacam cara.
Menurut V.
Wiratna Sujarweni,
“Penelitian kualitatif ini bertujuan memahami gejala atau fenomenasosial dengan cara memberi penjelasan
berupa gambaran yang jelas mengenai gejala atau fenomena sosial tersebut
yang berbentuk serangkaian
kata yang
akhirnya menghasilkan
teori”.[5]
b.
Sifat Penelitan.
Seharusnya penelitian ini sesuai judul peneliti,
maka penelitian
ini sifatnya deskriptif, Penelitian
deskriptif ialah penelitian dengan
tujuan mengadakan pemeriksaan dan
mengukur
suatu
gejala sosial.
Menurut Sugiono mengemukakan tentang penelitian
deskriptif ialah penelitian yang berupayamenguraikan pemecah permasalahan atas
dasar perolehan data,
sehingga menghasilkan penyajian data yang diolah, dianalisis,
dan diinterpretasikan.[6]
Penelitian ini bersifat deskriftif kareana berupa menghimpun fakta.Penelitian deskriptif yang dimaksud memiliki tujuan
mengetahui Penerapan metode pembelajaran daring pada
santri di pondok pesantren Tahfizdil Qur’an Al-asror Bangkalan.
2. Sumber Data.
Menurut Suharsimi Arikunto
Sumber
data menjelaskan mengenai
sumber perolehan data, data
apa
saja
dikumpulkan, cara informan atau suatu
subjek, dan dengan cara bagaimana data
peneliti diperoleh dari observasi, dokumentasi dan wawancara. Ciri-ciri
subjek dan informan itu sehingga
kredibilitas dapat
di jamin.
Sedangkan
sumber data yang didapat oleh peneliti berupa data Primer meliputi Ketua
Pesantren, Kepala sekolaH SMPQ, Ketua Keamanan pesantren, dan jajaran pengurus
pesantren dan data Sekunder berupa Arsip di Pondok Pesantren Tahfizdil Qur’an
Al-Asror Bangkalan.
Sumber data dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:
a.
Data Primer.
Menurut Sugiono Data Primer
merupakan sumber data yang langsung memberi data kepada pengumpul data atau
peneliti atau observasi. Peneliti
mendapatkan berbagai
sumber yang berhubungan dengan pembelajaran, didapatkan secara
langsung dari hasil wawancara di Pondok pesantren Tahfizdil qur’an AL-asror Bangkalan. [7]
b.
Data Skunder.
Kemudian Sugiono mengemukakan Sumber data
sekunder ialah sumber yang
tidak langsung
memberi data kepada pengumpulan data,
misalnya dari orang lain atau lewat dokumen.[8]
Data sekunder merupakan
data yang dididapatkan dari arsip dan bahan pustaka. Data ini akan didapatkan
peneliti dari buku-buku tentang penerapan pembelajaran Daring secara umum di jurnal, skripsi dan buku-buku penunjang lain sehingga Peneliti bisa langsung mencari
bahan penelitian mengenai penerapan metode pembelajaran Daring di Pondok Pesantren Tahfizdil
Qur’an Al-Asror Bangkalan.
3. Teknik Pengumpulan Data.
a.
Observasi.
Menurut Sugiono “Observasi yaitu mengamati langsung kelapangan,
peneliti bisa mendapatkan hal-hal yang
tidak akan terungkap oleh responden
pada wawancara sehingga
memperoleh kesan
pribadi, dan merasakan suasana situasi sosial yang diteliti.[9]
Observasi sebagai proses pengambilan
data dalam penelitian dimana peneliti
melihat situasi. Metode atau cara tersebut secara umum ditandai dari pengamatan mengenai apa yang
benar-
benar dilakukan oleh individu, dan membuat catatan secara objektif tentang apa yang
diamati.Cara melakukan observasi yaitu dengan
tujuh tahapan, yaitu: Pemilihan, pengubahan, pencatatan, pengkodean, rangkaian perilaku dan suasana, dan
tujuan empiris.
Observasi yang penulis lakukan pada saat Prasurvey
untuk mendapatkan data awal adalah observasi tersamar
dengan jenis non
partisipan yang digunakan untuk memperoleh data tentang
segala
aktivitas yang
dilakukan walikelas dalam
metode ini
digunakan untuk memperoleh data secara umum atau gambaran mengenai pembelajaran
di pondok pesantren Tahfizdil Qur’an
Al-Asror Bangkalan, metode yang digunakan oleh guru, media pembelajaran, dan
sikap santri disaat mengikuti proses pembelajaran melalui Daring mrenggunakan smart phone atau
media elektronik lainnya.
b.
Wawancara.
Sugiono mengemukakan “Interview merupakan pertemuan dua orang untuk saling tukar
ide dan informasi melalui tanya jawab, sehingga
bisa dikonsentrasikan makna pada suatu topik. Interview memiliki ciri utama kontak langsung dengan saling tatap muka antara pencari informasi (interviewer)
dan sumber informasi
(interviewer).[10]
Wawancara (interview) yaitu salah satu kaedah mengumpulkan data yang paling
bisa dipakai dalam penelitian sosial masyarakat.
Menurut Mita Rosaliza
mengemukakan “Wawancara dipakai untuk mendapatkan informasi bagi
keperluan data primer, dengan fakta,
perasaan, kepercayaan, keinginan dan
yang diperlukan untuk memenuhi tujuan penelitian. Bentuk
memperoleh informasi yang objektif dan
tepat, masing- masinginterviewer harus bisa menciptakan hubungan baik dengan
interviewer. Di
wawancara ini,
peneliti Wawancara
digunakan untuk menghimpun keterangan yang dilakukan dengan Tanya jawab secara
lisan kepada responden. Serta untuk memperoleh data mengenai pemahaman santri
di Pondok Presantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror
di Bangkalan melaksanakan tanya jawab langsung kepada kepala sekolah,
dan
wali kelas.
c.
Dokumentasi.
Menurut Sugiyono “Dokumentasi
ialah mencari data mengenai
variable yang berupa catatan, buku, majalah, surat kabar, agenda, prasasti, transkip dan notulen rapat lengger. Dibandingkan dengan metode
lain,
metode ini begitu mudah, dalam arti apabila terdapat
kesalahan
sumber datanya masih tetap atau belum
berubah.”Dokumen
bisa berbentuk gambar, tulisan ataupun karya-karya monumental dari
seseorang. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel(dipercaya) apabila didukung oleh karya tulis akademik dan seni yang ada.[11]
4. Teknik
Analisis Data.
Menurut Sugiyono “Analisis yaitu
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan
dokumentasi.”Sedangkan Sukardi
mengemukakan “Deskripsi data melalui penyusunan dan pengelompokan data,
sehingga
memberi gambaran
nyata
terhadap responden Sesuai tujuan penelitan yang akan dicapai menurut Sugiono “ Diawali penelaahan seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yakni observasi,
wawancara, dokumentasi, dan triangulasi dengan mengadakana reduksi
data yaitu data-data yang didapatkan di lapangan dirangkum dengan memilih hal-
hal
yang pokok serta disusun lebih sistematis sehingga mudah dalam pengendalian.[12]
Menurut pendapat Lexy J. Moleong beliau mengatakan “analisis data
kualitatif ialah upaya bekerja
melalui data,
mengorganisasikan data, memilah data menjadi satuan yang bisa dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan
pola, menemukan apa yang
penting dan apa yang dipelajari, memutuskan apa yang bisa dijelaskan kepada orang lain.[13]
Upaya penulis
dalam menganalisis data
sebagai berikut:
a.
Reduksi Data.
Kegiatan Reduksi data yang didapat dilapangan jumlahnya cukup banyak, sehingga dibutuhkan catatan dengan rinci danteliti. Mereduksi data artinya memilih
hal
inti, merangkum, menfokuskan pada suatu hal yang penting, dicarikan tema dan pola.[14]
b.
Penyajian Data.
Sesudah data reduksi langkah berikutnya yakni penyajian
data dengan cara Menyajikan
data yang berbentuk uraian singkat, hubungan antar
kategori,bagan, dan sejenisnya. Menurut pendapat Sugiyono penyajian data selain dengan teks yang naratif, juga bisa berupa grafik, jejaring kerja dan Matrik.[15]
c.
Pengambilan Kesimpulan.
Langkah ketiga yaitu analisis data
menurut Sugiyono adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal masih sementara, dan berubah apabila tidak ditemukan
data-data yang kuat yang
mendukung pada tahap pengumpulan data selanjutnya. Namun jika kesimpulan yang di awal, didukung dengan bukti-bukti yang valid dan
konsisten saat peneliti kembali
ke lapangan,sehingga kesimpulan
yang di dapatkan adalah kesimpulan yang kredibel.
Peneliti mengambil metode kualitatif dalam pengambilan data agar lebih
mudah dalam mendeskripsikan kasus di Pondok Pesantren Tahfizd Al-Qur’an
Al-Asror Desa Mlajah Kecamatan Bangkalan.
Penarikan
kesimpulan dengan verifikasi bisa dilakukan secara terus-menerus selama
penelitian berlangsung. Setelah peneliti melakukan
penarikan kesimpulan dari hasil penelitiannya kemudian melakukan verifikasi.
Kesimpulan yang dibuat adalah jawaban dari penelitiannya.
H.
Sistematika Pembahasan.
Fungsi dari Sistematika Peneltian Untuk lebih
memudahkan pemahaman mengenai isi dari penelitian ini kepada pembaca skripsi ini. maka
Peneliti meringkas isinya sebagaimana berikut.
BAB I pendahuluan,
meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan masalah dan kegunaan
penelitian, ruang lingkup penelitian, definisi operasional, metodologi penelitian dan sistematika
pembahasan.
BAB II
kajian
teori. Kajian teori meliputi dua sub
pembahasan, yaitu : Kajian Terdahulu dan kajian Teori tentang Metode pem,belajaran
daring di pesantren, lalu macam, karakteristik, dampak. Kemudian kajian tentang
Pesantren, Macam-Macam metode pendidikan pesantren, model.
BAB
III berisi
tentang Hasil penelitian dan
Pembahasan, yaitu: A. gambaran umum pesantren letak dan struktur pesantren,
program pesantren, sarana dan pra sarana pesantren, data santri yang mengikuti
pembelajaran daring di Pesantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror Bangkalan. B.
Penyajian data meliputi hasil wawancara peneliti terhadap narasumber yaitu
Ketua IV Pesantren Tahfizdil Qur’an Al-Asror Bangkalan. C. Berisi tentang
analisis data.
BAB IV
penutup
yang memuat kesimpulan dan saran serta adanya titik temu jawaban dari
penelitian.
[1] Holi
Kartika Nurwigati Symartiningtyas, “4 Skrenario Asal Mula Virus Corona Di Wuhan
Menurut WHO”, Kompas.com, (11 Februari2021), hal 1.
[2] Jurnal Muhammad
Fauzi, “Strategi Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19”,Al-Ibrah,Vol. 2, no.
2(Desemeber, 2020),124.
[3] Ahmad Naufal
Khoirul Fauzan, “Kiai Akil Siroj Ungkap Sistem Pendidikan Pesantren”
Berdasarkan Al-qu’ran, NUonline (Oktober 2021), 1.
[4] Yuliana Alfiyatin,
Efektivitas Pembelajaran Daring dalam Pandangan Siswa Mi Al-Falah
Dakiring-Bangkalan, (Al-IbrahVol. 5 No. 2 Desember 2020), hal 11
[5] Ibid hal 11
[6] Ibid hal 14
[7] Ibid hal 14
[8] Ibid hal 15
[9] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung
: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 153
[10] Yuliana Alfiyatin,
Efektivitas Pembelajaran Daring dalam Pandangan Siswa Mi Al-Falah
Dakiring-Bangkalan, (Al-IbrahVol. 5 No. 2 Desember 2020), hal 13
[11] Ibid hal 16
[12] Ibid hal 16
[13] Moleong J.
Lexi, Metode Penelitian Pendidikan Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2021) hal. 55
[14] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, (Bandung : Alfabeta, 2008), hal. 334
[15] Ibid hal 337
Komentar
Posting Komentar